BEKASI (23/4/26) – Ada yang berbeda dan mendalam dalam setiap pelaksanaan shalat zuhur berjamaah di SDIT Al Husnayain. Bukan sekadar rutinitas ibadah, momen ini menjadi sarana penguatan spiritual dan pemupukan rasa solidaritas global melalui lantunan doa-doa khusus yang telah menjadi ciri khas sekolah.
Identitas Khas: Doa Rabithah Karangan Ulama Besar
Setelah rangkaian shalat zuhur selesai, suasana masjid mendadak hening dan khidmat saat seorang siswa maju memimpin doa. Yang dilantunkan adalah Doa Rabithah, sebuah doa penuh makna yang disusun oleh ulama besar asal Mesir , Syaikh Hasan Al Banna.
Doa ini dipanjatkan dengan tujuan untuk:
-
Mengikat Hati: Mempererat tali persaudaraan (ukhuwah) antar siswa, guru, dan seluruh warga sekolah.
-
Menyatukan Langkah: Menanamkan visi yang sama dalam ketaatan kepada Allah SWT.
-
Kekuatan Spiritual: Menjadi fondasi karakter agar siswa memiliki jiwa yang tangguh dan terhubung secara batin dengan sesama muslim.
Mengetuk Pintu Langit untuk Pejuang Muslimin
Satu hal yang paling menyentuh dalam sesi doa ini adalah selipan doa khusus bagi para pejuang kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Di saat banyak anak seusia mereka hanya fokus pada diri sendiri, siswa SDIT Al Husnayain diajak untuk menengok kondisi umat di kancah internasional.
“Mendoakan saudara kita yang sedang berjuang di belahan bumi lain adalah cara kami menanamkan bahwa muslim itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka bagian lain ikut merasakannya,” ungkap salah satu guru setelah pelaksanaan shalat.
Kemandirian Siswa dalam Beribadah
Meskipun posisi Imam tetap diamanahkan kepada Bapak Guru untuk menjaga kesempurnaan shalat, peran strategis lainnya sepenuhnya diberikan kepada siswa:
-
Muazin: Siswa bertugas mengumandangkan azan dengan lantang dan merdu.
-
Pemimpin Doa: Siswa memimpin zikir dan Doa Rabithah, melatih kepercayaan diri sekaligus kefasihan dalam berbahasa Arab.
Membentuk Generasi Berwawasan Umat
Melalui rutinitas shalat zuhur ini, SDIT Al Husnayain tidak hanya mencetak generasi yang pintar secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki Empati Lintas Batas. Doa Rabithah dan doa untuk pejuang muslimin dunia telah menjadi “napas” pendidikan karakter di sekolah ini, membentuk profil lulusan yang peduli, bertaqwa, dan memiliki wawasan umat yang luas.











