BEKASI(6/5/26) – Banyak orang tua dan pendidik merasa telah memiliki bekal yang cukup sebelum benar-benar terjun menghadapi dinamika anak. Namun, realitas di lapangan sering kali menjadi situasi yang “menciutkan nyali”. Inilah yang dibedah dalam buku international best seller karya Adele Faber dan Elaine Mazlish, How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk.
Mengambil inspirasi dari psikolog Dr. Haim Ginott, prinsip utamanya sangat sederhana namun mendalam: ada hubungan langsung antara perasaan dan perilaku anak. Jika anak merasa baik karena dipahami, maka perilaku mereka pun akan cenderung membaik.
Jebakan “Membantah” Perasaan Anak
Kesalahan umum yang sering dilakukan orang dewasa adalah secara otomatis membantah apa yang anak rasakan. Kalimat seperti, “Kamu tidak capek, kamu cuma malas,” atau “Jangan cengeng, begitu saja kok nangis,” sebenarnya adalah bentuk penyangkalan terhadap realitas mereka.
Tindakan membantah ini bukan hanya memicu perdebatan, tetapi juga mengajari anak untuk tidak memahami dan tidak memercayai insting mereka sendiri. Komunikasi yang efektif harus dimulai dengan penerimaan, bukan sanggahan.
4 Langkah Praktis Membangun Empati
Untuk membantu anak mengatasi perasaannya dengan lebih sehat, buku ini menawarkan empat strategi konkret yang bisa diterapkan di rumah maupun di sekolah:
-
Dengarkan dengan Penuh Perhatian: Berikan kehadiran penuh tanpa interupsi. Terkadang, kehadiran kita jauh lebih bermakna daripada rentetan nasihat.
-
Tunjukkan Perhatian dengan Kata Sederhana: Gunakan respons seperti “Oh…”, “Hmm…”, atau “Begitu ya,”. Ini menunjukkan bahwa kita benar-benar menyimak tanpa harus langsung menghakimi.
-
Sebutkan Nama Perasaannya (Labeling): Bantu anak membangun kosakata emosi. Misalnya, “Wah, sepertinya kamu merasa kecewa ya karena mainannya rusak?”. Ini membantu mereka memahami apa yang terjadi dalam diri mereka.
-
Beri Keinginan dalam Khayalan: Mengakui harapan anak meskipun tidak bisa diwujudkan saat itu. Contoh: “Bapak/Ibu guru mengerti kok, rasanya pasti ingin sekali ya bisa makan es krim sekarang. Andai saja saat ini sudah waktunya istirahat dan penjualnya ada di sini, kita pasti bisa menikmatinya bersama.. Hal ini membuat anak merasa keinginannya dihargai.
Sikap di Balik Kata-kata
Pesan terkuat dari metode ini adalah bahwa sikap jauh lebih penting daripada teknik bicara. Jika kita tidak tulus atau hanya ingin memanipulasi agar anak patuh, mereka akan merasakannya sebagai kepura-puraan.
Empati sejati adalah kunci yang memungkinkan anak untuk mulai membantu diri mereka sendiri dan mengatasi masalah dengan kepala dingin. Transformasi ini bukan sekadar tentang cara kita berbicara, tapi tentang bagaimana kita memanusiakan anak dalam setiap interaksi. (hs)










